Sunday, November 26, 2006

Semu

Aku kan menjadi semu diantara ralitamu
Semu diujung sadarmu
Hilang menjadi abu
Tiada secercik bekas dialis
Aku menjadi jejak yang tertinggal
Di purnama yang terang

*03.03, dingin merasuk sukma...

Friday, November 24, 2006

File-file lalu..

Malam ini aku ditemani ACER dan P910ku serta dikelilingi 4 orang kawan. Ah.. sebuah file kecil berisi semua SMS pada tahun 2004 terpampang pada layar 15,4 inci. Segeraku buka. Hihihi... langsung aku tertawa saat membaca SMS pada tanggal 23 may 2004 dari seorang wanita yang dulu pernah aku taksir. Hahaha... usaha pendekatan yang sangat kuno dan sangat primitif. Lucu sekali... Sampai saat ini kami tetap berteman baik. SMS berikutnya dari teman sekamar saya hingga saat ini. SMS dia bertuliskan "Kong dimana lo?", aku langsung tertawa. Karena hingga saat ini aku masih memikirkan sejak kapan aku diberikan gelar "kingkong" dari anak-anak Mahasiswa yang merupakan pangilan sayank. Panggilan sayang tiap Mahasiswa sangat beragam, panggilannya adalah segala isi kebun binatang serta hewan-hewan dimuka bumi dan kami tidak ada yang tersinggung dengan panggilan sayang itu, bahkan kami menjadi akrab. Mungkin panggilan sayang itu lah yang merekatkan kami. Aku meneruskan membaca isi dari tiap-tiap SMS itu, aku mulai menyadari sifatku waktu dulu yang masih terlalu agresif dan... Hahaha... Bagus juga membuka file-file lama, lumayan untuk introspeksi diri. Lalu aku melengkapkan reuni perjalananku dengan membuka file foto-foto lama. Memori masa lalu terasa semakin dekat, sungguh indah dan manis melekat dalam pikiran. Alunan musik dari winamp menambah kehikmatan suasana. Sungguh aku merasa bahagia malam ini. Hingga saat ini, aku duduk berhadapan dengan blogku ini dan mengisinya, aku merasakan kegembiraan.
Semoga file-file ini dapat tersimpat terus, sehingga aku bisa menceritakan pada anak dan cucuku. Sekaligus sebagai pemacu untuk memperkuat daya ingat!!

Thursday, November 23, 2006

Dirimu Sobat..

Sobat, buang saja diriku disaat kau menemukan kenyamanan dan ketentraman disisi lain. Buat aku seperti keset didepan rumahmu, kau gunakan tuk membersikan Alas kakimu dan kau tinggal aku diluar. Buat aku seperti tebu, yang kau ambil manisnya tuk menghilangkan pahitmu dan kau buang aku. Jadikan aku sebuah gudang rasa gundahmu tampa kau berbagi sebuah kemanisan indah yang kau raih. Tidakkah kau melihat diriku sebagai manusia diamana aku mempunyai perasaan kegundahan dan kesedian sama seperti dirimu? sungguh naif dirimu.. Sayang, aku tidak bisa meninggalkan seorang sobat!! apa lagi dia dalam keadaan rapuh. Yang sering terjadi aku ditinggalkan Sobat. Aku tak kawatir akan hal itu. Suatu hari disaat keterpurukan mu, aku tau kau akan kembali kepadaku..

dari hati..

Kaki menghentak ingin menggapai bintang yang tak kunjung datang, Aku yakin bulan sabit akan kembali menjadi purnama yang terang...

*moskow, 22 Nov 06

Waktu

Waktu - suatu moment singkat dalam keluasan yang tak terbatas.

Monday, November 20, 2006

Malam ini

Moskow, 18 November 2006. Aku masih di tempat yang sama seperti 2 hari yang lalu hanya saja dalam jam yang berbeda. Hari ini tidak ada suatu kejadian yang unik ato spesial untukku, tapi hari ini mungkin menjadi hari yang special bagi seseorang seperti Jeidy yang menempuh umur yang k 22. Selamat ulang tahun tidak lupa ku ucapkan dan mengobrol sedikit melalui SMS.
Malem ini aku merasa kesendirian, sepi dan hampa. Aku ingin sekali merasakan keramaian, suatu hiburan nyata dari sahabat, atau setidaknya teman berbincang melewati malam ini. Kawan-kawan sudah kembali ke peraduan masing-masing. Aku manusia sebagai mahluk sosial masih merindukan tuk bercengkrama dengan sahabat. Sunggu bosan malam ini, ditambah lagi dengan sahabat yang biasa berbagi keluh kesah denganku melalui SMS sibuk dengan pekerjaannya, sungguh tidak bisa diandalkan tuk membuang kesepian malam ini. Yah, semoga dia menjadi orang yang sukses dan tenar!! Siapa yang tau masa depan? yang aku takutkan adalah dimana kawan-kawanku sudah sukses mereka akan meninggalkan aku sendirian dan berpura-pura tidak kenal dengan ku. Ini banyak sekali aku melihat keadaan seorang sahabat hilang ditelan dengan materi dan ketenaran. Yah, kita tinggal menunggu hal itu dimasa depan.
Ahh.. dimana kawan ku? kemana aku kan berbagi kesepianku? ini kah suatu balasan dari sahabat? aku tak mengerti dan mungkin mereka tak mau mengerti...

Malam ini aku suntuk.. Malam ini aku jengah.. Malam ini aku.. aku.. aku.

Friday, November 17, 2006

"kenapa jurnalistik?"

Malam yang senyap ini. Suhu di luar menunjukan -2 derajat celcius. Dingin malam menusuk hingga ke sendi-sendi tulang. Aku masih terjaga, memikirkan "kenapa aku duduk dijalur jurnalistik?"

Kuliah dengan jurusan jurnalistik ini sebenarnya benar-benar diluar cita-cita yang aku harapkan. Berangkat ke Russia bersama orang tua yang ditugaskan dengan maksud mengambil kuliah jurusan Hukum kelautan atau Hubungan Indonesia yang dilengkapi dengan fasilitas beasiswa. Namun kedua jurusan itu tidak ada fasilitas beasiswanya. Karena terlanjur berangkat ke Russia, dan aku tidak mau pulang untuk meniti pendidikan di Indonesia yang uang pangkalnya cukup mahal dan tiap tahunnya harus bayar SKS. Maka aku berpikir dan mengambil keputusan untuk kuliah dengan fasilitas beasiswa berharap tidak terlalu membebani orang tua yang mendekati usia pensiunnya. Yah, setidaknya mereka tidak perlu keluar uang untuk uang pangkal masuk kuliah dan uang SKS tiap semesternya. Aku hanya masih menggantungkan hidup dalam bentuk uang transportasi dan uang makan. Selebihnya aku berusaha membeli sesuatu dengan tabunganku dan uang hasil keringatku sendiri. Aku memikirkan masak-masak, apakah aku pulang dan kuliah di Indonesia dengan membebankan hidup terhadap orang tua atau aku memilih jurusan lain yang dilengkapi dengan beasiswa? 3 hari cukup buat aku untuk membuat keputusan. Dan akhirnya aku memilih jurnalistik(beasiswa) dengan pertimbangan; pertama media di Indonesia banyak yang baru(pada saat itu sekitar 5 stasiun TV baru diresmikan mengudara) mungkin tenaga mahasiswa lulusan jurnalistik sangat dibutuhkan. Kedua, kebetulan sekali aku menyukai seni fotografi dan mungkin saja aku bisa jadi foto jurnalis. Berbekal kedua pemikiran tersebut aku membanting setir memilih jurnalistik. Mungkin ini ada lah takdir Yang Maha Kuasa atas hidupku. Sewaktu aku masih SMA aku bercita-cita menjadi seorang ahli hukum kelautan. Karena Indonesia masih lemah dalam hukum kelautannya(ini pendapat subyektif ku) atau menjadi duta bangsa sebagai diplomat diluar negri seperti Ayahku, namun dia dibagian komunikasi.

Setelah melewati fakultas bersiapan(untuk mempeajari bahasa Russia), menjalani kuliah di tingkat pertama, aku masih belum menemukan kenikmatan menjadi jurnalis media cetak(karena system dirusia berbeda dengan di Indonesia, mereka menggunakan system tahunan bukan system smester), aku hanya menikmati pelajaran foto jurnalistik. Mungkin dikarenakan aku tidak suka menulis dan tidak mempunyai kesabaran untuk membaca, maka aku hanya menyukai pelajaran foto jurnalistik. Aku mengalami deoresi dan aku berbicara pada batin, "sudah kepalang tanggun, ayo bertahanlah" dan akhirnya aku bertahan. Lulus tingkat pertama dengan nilai yang standart, tidak terlaru terpuruk. Lumayan lah..

Masuk tingkat kedua, mulai sedikit menarik karena disini kami dibuat pergrup dan membuat sebuah Koran sendiri. Disini aku sedikit menemukan keasyikan. Dalam grup ini aku ditaruh pada foto jurnalis dan sebagai redactor format Koran serta sebagai penanggung jawap percetakan(karena ini Koran kampus buat kaum mahasiswa, kami menyetak dengan fotokopi dengan format kertas A3). Koran kami bernama "Metro". Kenapa dinamakan metro? Mereka menjelaskan Koran kami bekerja seperti kereta bawah tanah(metro) cepat, tepat waktu dan sampai pada tujuannya. Ditingkat yang sama kami juga mepelajari jurnalistik dalam media radio. Berhubung aku mempunyai kesulitan berbahasa Russia dengan baik(mungkin memang aku memiliki keterbelakangan dalam mempelajari bahasa) maka aku menjadi pembaca berita terburuk di jagat ini. Setelah gagal menjadi pembaca berita, aku menempatkan diriku menjadi Sound Director(orang rusia menyebutnya seperti itu, untuk posisi di belakang mixer dan aku tidak tau bahasa awamnya). Berhubung bahasa teknis merupakan bahasa universal, maka aku dengan singkat bisa menguasai mixer itu beserta effect-nya serta aku mempelajari program untuk merekam dan meng-edit suara. Salah satu syarat lulus tingkat dua, kami diwajibkan membuat suatu program acara radio dalam bentuk kelompok dengan durasi kira-kira 20menit. Bermodalkan laptop dan mic untuk chatting serta ide kreatif dari teman-teman maka kami lulus dengan mulus. Amin..

Yup, tingkat 3 menati, Dunia Broadcasting dan teknik TV dimulai. Wuiih… ini yang aku tunggu-tunggu. Entah kenapa aku sangat tertarik dengan dunia yang satu ini, walaupun aku masih hijau tentang ilmu pertelevisian dan sejenisnya. Awal tahun, kami mendapatkan teori-teori perTVan dan teknik TV yang menurutku saat itu membosankan. Angin segar tiba kepadaku dengan pengumuman dari direktur TV RUDN yang merupakan tv kampusku bahwa, siapa yang berminat untuk praktek di TV kampus silakan bergabung. Dengan berapi-api aku pun langsung menyerbu TV kampus itu. Setibanya disana, ternyata hanya aku seorang yang berkewarganegaraan asing. Weleh, hatipun sedikit menciut. Namun itu tidak memadamkan semangatku tuk belajar sebagai cameraman TV. Pada awalnya aku didiskriminasikan dan diremehkan dan itu membuatku gerah. Aku sama sekali tidak diberikan tuk memegang alat2 teknis. Aku hanya dibolehkan melihat dari jauh. Hingga suatu saat, distudio kekurangan orang unuk menayangkan siaran berita secara live. Kebetulan aku hadir. Dikeadaan panic seperti itu, Farid sebagai penanggung jawab sekaligus sebagai Pimpinan teknis menanyakan aku tentang alat teknis apa yang bisa aku kendalikan? Dengan berbekal ilmu mixer yang aku dapat dari radio aku pun duduk sebagai audioman. Acara berita live malam ini sukses tampa kesalahan. Dari sini titik kepercayaan meraka terhadap aku mulai tumbuh. Akhirnya dalam jangka waktu 2 minggu aku sudah memegang Sony PD. Dan puncaknya, aku dipercaya untuk memegang kamera dalam satu film untuk festival film tiap tahun antar mahasiswa tingkat 3. Walaupun film kami menempati urutan ke 3, aku cukup gembira karena ini film karya tanganku dan teman-teman. Film kami hanya terpaut 1 point dengan juara 2. Pada akhir bulan aku diajak dalam pembuatan film dokumenter serius. Ini merupakan film documenter pertamaku untuk Indonesia. Film itu berjudul "Gerimis kenangan dari sahabat yang terlupaka" . Tim kami terdiri dari Mba Henny(dia yang memasukan saya dan mempercayai saya sepenuhnya. Saya sangat berterimakasi atas itu), Romo Muji, Taufik Razen, Mas Benny, Mas Senno, dan Aku sendiri. Namun aku tidak menyukai editan film tersebut dan alur ceritanya. Tidak focus dan banyak gambar-gambarku yang tidak dimasukan. Arg,,,, kesal hati ini kalau mengingat hal itu. Tapi ini pengalaman pertamaku dalam film documenter dan ini membuatku terus maju di dunia jurnalistik. Pengalaman terakhir yang aku dapatkan adalah magang di stasiun TV "TransTV". Ouh… Trimakasih teman-teman Trans TV yang telah memberikan ilmunya tampa pamrih dan bimbingannya. Dan kepada seorang produser yang telah memberikan aku suatu dorongan untuk menulis. Mungkin kalo beliau membaca ini dia akan tersenyum. Trimakasih..

Kata seorang dosen saya, jurnalistik merupakan kekuatan ke 4 dalam suatu Negara, karena jurnalistik bisa mempengaruhi masa dan mengendalikan masa tampa disadari. Aku tidak bisa memastikan itu. Namun aku percaya akan hal itu. Dari takdir, perjalanan hidup dikampus, dan perkataan dosenku, maka terjawab pula pertanyaan "kenapa aku duduk dijalur jurnalistik". Semoga setamatnya aku dari universitas, aku bisa berdiri sejajar dengan para journalis-jurnalis yang telah sukses dan mengukir sejarah. Amin…

Wednesday, November 15, 2006

Mawar 16 november 2006

Setangkai mawar digenggaman
Menanti bidadari turun dari langit
Berbagi separuh nafas
Menyatukan rusuk yang telah hilang
Jejak kaki seorang bocah menari-nari diatas pasir putih
Hembusan ombak mengeluarkan buih putih, pohon kelapa pun melambai
Kedamaian dunia nyata terasa dengan dekatnya bidadari cinta

Cahaya cinta memancar dari binarnya mata, membawa senyuman hati kecil

*Berikan aku cinta, rindu akan makna cinta dari seorang wanita...

Today what I feel

Akhir-akhir ini aku tidak merasakan gejolak semangat kehidupan di relung sukma. Apakah ini effek psikologi dari jawaban dia atas pernyataan rinduku pada nya?

Pada suatu malam di salah satu tempat aku menghabiskan waktu, aku sedang membuka file foto-foto untuk suatu project yang aku kerjakan buat tahun baru. Aku melihat foto diriku dan dirinya serta 2 klip pendek tentang aku dan dia. Aku tertawa dan mengirimi dia sebuah sms kecil tentang kerinduan aku pada masa itu. Memang aku bersalah, karena dia telah memiliki seseorang untuk disanding. Tapi yang aku pertanyakan apakah perlu menjawab kerinduan dengan keketusan? Aku seorang lelaki yang seharunya kuat dan tegar, tetapi aku juga mempunyai perasaan yang sensitive seperti engkau, dia atau yang lainnya. Sebuah jawaban yang sinis itu seperti tamparan keras dan telak diwajahku. Sakit memang, namun apa yang bisa ku perbuat. Penyesalan? Tentu terus membayangiku. Manusia hanya bisa mempelajari dari sebuah pengalaman. Semoga aku tak membuat suatu kesalahan yang sama dimasa depan. Yah.. Setidaknya mengurangi kesempatan melakukan kesalahan yang sama…

Suatu hari di bulan November

Setelah lama tidak mengisi blog ini yang telah menjadi sahabat selama aku merasakan dinginnya hati yang merindukan sebuah nama. Terasa sekali kerinduan untuk menyampaikan aspirasi alam pikiran yang telah dipengaruhi oleh perasaan dan lingkungan. Membaca kembali apa yang telah aku pahat dalam blog ini, membuat aku melekukan pipiku dan memberikan senyum kecil. Bukan senyum kepuasan telah berasil mengisi blog ini, akan tetapi kenangan pada saat aku menulis blog ini dan pada sebuah kejadian yang mempengaruhi tulisanku pada blog ini. Sunggu lucu dan manis terasa di hati. Keindahan yang berbeda dengan sebuah keindahan lainnya.

Perjalanan yang telah kita tempuh dan menjadi jejak-jejak sejarah kita dimana rasa senang, sakit, sedih, bingung, dll menjadi kenangan yang berarti. Kenangan itu yang akan membentuk sikap dan kedewasaan kita. Tentu dengan proses dan kemampuan kita masing-masing sehingga tercipta suatu tingkat kedewasaan yang berbeda-beda.

Allah SWT telah menciptakan sebuat motherboard dilengkapi oleh prosesor dalam bentuk otak serta perasaan sebagai Operation Sistem. Sunggu maha karya yang dasyat. Otak mampu menampilkan kejadian yang telah dilalui dalam bentuk memori. Kenikmatan yang luar biasa, tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Kenikmatan yang patut kita syukuri. Kenikmatan yang bisa mempengaruhi masa depan kita. Para ilmuwan didunia, baru dapat kurang lebih 20% dalam membuka rahasia tabir otak manusia. Akan kah kita dapat menemukan semua rahasia otak?

Suatu kebesaran Allah SWT atas suatu ciptaannya. Aku bersaksi diatas bumi ku berpijak bahwa Allah SWT maha pencipta dan tuhan semesta alam. Izinkan hambamu menikmati kenikmatan memori yang telah engkau berikan kepadaku hingga akhir hayatku. Kenikmatan memori yang telah membuatku tersenyum disaat ini. Amin.

Suatu moment dibulan November

Kemarin mentari menampakkan dirinya dari balik awan yang melaju bebas di langit biru. Membuat angin kegirangan menari-nari diantara pohon yang mengering sambil menggandeng daun gugur yang menguning, menjelajahi tempat yang biasa aku lalui. Masih di tempat ini, bersama kopisusu yang hangat menemaniku berpikir. Perasaan ku mulai sedikit tenang saat mengingat dirinya. Aku lebih terkosentrasi dengan keadaan aku yang masih labil di Moscow.


Universitas tempatku meniti jalan untuk masa depan, tidak memberikan perubahan yang dasyat, hanya saja jumlah mahasiswa di kelasku makin tahun makin berkurang. Selama 4 bulan di Jakarta secara tak langsung memberikan perubahan mental dan sikap terhadap diriku dan caraku bersikap dalam lingkungan bermasyarakat. Sambutan hangat dari wanita-wanita tempat aku menghabiskan waktu dan bercumbu tidak memberikan sebuah hentakan jiwa yang biasanya aku rasakan sepulangnya dari liburan kuliah. Api penggoda dalam jiwa tidak lagi membara seprti dulu. Kerinduan bersosialisasi dengan teman-teman lama, tidak lagi bergelora dalam hati ku. Entah kenapa, aku juga tidak mengerti. Apakah aku akan menyia-yiakan wanita-wanita ini? Alangkah lebih baik bila aku memanfaatkan sebuah cumbuan hangat dari mereka sembari aku mencari separuh nafasku? sisi rusukku yang hilang di bumi ini?! Jiwa pemburu dan penggodaku sepertinya sedang tertidur di saat ini. Setiap wanita yang pernah bersanding dalam hidupku memberikan kesan dan nasihat dalam hidupku yang berharga. Namun ada seorang wantia yang telah membuatku taklukan ego yang selama ini mengendalikan jiwa dan ragaku bahkan alam pikiranku. Aku akan berusaha menekan egoku dan ambisiku demi wanita yang akan kusanding nantinya. Dia telah menjadi bagian takdir hidupku dan mengukir kenangan dalam hidupku.. Dan aku berterimakasih kepada Allah SWT telah menghadirkan dia dalam hidupku. Terimakasih, dan maaf aku tak bisa dengan explirit menyebutkan namamu. Aku tau, bila kau membaca blog ini dirimu mengerti bahwa ini cerita tentang mu..