Malam yang senyap ini. Suhu di luar menunjukan -2 derajat celcius. Dingin malam menusuk hingga ke sendi-sendi tulang. Aku masih terjaga, memikirkan "kenapa aku duduk dijalur jurnalistik?"
Kuliah dengan jurusan jurnalistik ini sebenarnya benar-benar diluar cita-cita yang aku harapkan. Berangkat ke Russia bersama orang tua yang ditugaskan dengan maksud mengambil kuliah jurusan Hukum kelautan atau Hubungan Indonesia yang dilengkapi dengan fasilitas beasiswa. Namun kedua jurusan itu tidak ada fasilitas beasiswanya. Karena terlanjur berangkat ke Russia, dan aku tidak mau pulang untuk meniti pendidikan di Indonesia yang uang pangkalnya cukup mahal dan tiap tahunnya harus bayar SKS. Maka aku berpikir dan mengambil keputusan untuk kuliah dengan fasilitas beasiswa berharap tidak terlalu membebani orang tua yang mendekati usia pensiunnya. Yah, setidaknya mereka tidak perlu keluar uang untuk uang pangkal masuk kuliah dan uang SKS tiap semesternya. Aku hanya masih menggantungkan hidup dalam bentuk uang transportasi dan uang makan. Selebihnya aku berusaha membeli sesuatu dengan tabunganku dan uang hasil keringatku sendiri. Aku memikirkan masak-masak, apakah aku pulang dan kuliah di Indonesia dengan membebankan hidup terhadap orang tua atau aku memilih jurusan lain yang dilengkapi dengan beasiswa? 3 hari cukup buat aku untuk membuat keputusan. Dan akhirnya aku memilih jurnalistik(beasiswa) dengan pertimbangan; pertama media di Indonesia banyak yang baru(pada saat itu sekitar 5 stasiun TV baru diresmikan mengudara) mungkin tenaga mahasiswa lulusan jurnalistik sangat dibutuhkan. Kedua, kebetulan sekali aku menyukai seni fotografi dan mungkin saja aku bisa jadi foto jurnalis. Berbekal kedua pemikiran tersebut aku membanting setir memilih jurnalistik. Mungkin ini ada lah takdir Yang Maha Kuasa atas hidupku. Sewaktu aku masih SMA aku bercita-cita menjadi seorang ahli hukum kelautan. Karena Indonesia masih lemah dalam hukum kelautannya(ini pendapat subyektif ku) atau menjadi duta bangsa sebagai diplomat diluar negri seperti Ayahku, namun dia dibagian komunikasi.
Setelah melewati fakultas bersiapan(untuk mempeajari bahasa Russia), menjalani kuliah di tingkat pertama, aku masih belum menemukan kenikmatan menjadi jurnalis media cetak(karena system dirusia berbeda dengan di Indonesia, mereka menggunakan system tahunan bukan system smester), aku hanya menikmati pelajaran foto jurnalistik. Mungkin dikarenakan aku tidak suka menulis dan tidak mempunyai kesabaran untuk membaca, maka aku hanya menyukai pelajaran foto jurnalistik. Aku mengalami deoresi dan aku berbicara pada batin, "sudah kepalang tanggun, ayo bertahanlah" dan akhirnya aku bertahan. Lulus tingkat pertama dengan nilai yang standart, tidak terlaru terpuruk. Lumayan lah..
Masuk tingkat kedua, mulai sedikit menarik karena disini kami dibuat pergrup dan membuat sebuah Koran sendiri. Disini aku sedikit menemukan keasyikan. Dalam grup ini aku ditaruh pada foto jurnalis dan sebagai redactor format Koran serta sebagai penanggung jawap percetakan(karena ini Koran kampus buat kaum mahasiswa, kami menyetak dengan fotokopi dengan format kertas A3). Koran kami bernama "Metro". Kenapa dinamakan metro? Mereka menjelaskan Koran kami bekerja seperti kereta bawah tanah(metro) cepat, tepat waktu dan sampai pada tujuannya. Ditingkat yang sama kami juga mepelajari jurnalistik dalam media radio. Berhubung aku mempunyai kesulitan berbahasa Russia dengan baik(mungkin memang aku memiliki keterbelakangan dalam mempelajari bahasa) maka aku menjadi pembaca berita terburuk di jagat ini. Setelah gagal menjadi pembaca berita, aku menempatkan diriku menjadi Sound Director(orang rusia menyebutnya seperti itu, untuk posisi di belakang mixer dan aku tidak tau bahasa awamnya). Berhubung bahasa teknis merupakan bahasa universal, maka aku dengan singkat bisa menguasai mixer itu beserta effect-nya serta aku mempelajari program untuk merekam dan meng-edit suara. Salah satu syarat lulus tingkat dua, kami diwajibkan membuat suatu program acara radio dalam bentuk kelompok dengan durasi kira-kira 20menit. Bermodalkan laptop dan mic untuk chatting serta ide kreatif dari teman-teman maka kami lulus dengan mulus. Amin..
Yup, tingkat 3 menati, Dunia Broadcasting dan teknik TV dimulai. Wuiih… ini yang aku tunggu-tunggu. Entah kenapa aku sangat tertarik dengan dunia yang satu ini, walaupun aku masih hijau tentang ilmu pertelevisian dan sejenisnya. Awal tahun, kami mendapatkan teori-teori perTVan dan teknik TV yang menurutku saat itu membosankan. Angin segar tiba kepadaku dengan pengumuman dari direktur TV RUDN yang merupakan tv kampusku bahwa, siapa yang berminat untuk praktek di TV kampus silakan bergabung. Dengan berapi-api aku pun langsung menyerbu TV kampus itu. Setibanya disana, ternyata hanya aku seorang yang berkewarganegaraan asing. Weleh, hatipun sedikit menciut. Namun itu tidak memadamkan semangatku tuk belajar sebagai cameraman TV. Pada awalnya aku didiskriminasikan dan diremehkan dan itu membuatku gerah. Aku sama sekali tidak diberikan tuk memegang alat2 teknis. Aku hanya dibolehkan melihat dari jauh. Hingga suatu saat, distudio kekurangan orang unuk menayangkan siaran berita secara live. Kebetulan aku hadir. Dikeadaan panic seperti itu, Farid sebagai penanggung jawab sekaligus sebagai Pimpinan teknis menanyakan aku tentang alat teknis apa yang bisa aku kendalikan? Dengan berbekal ilmu mixer yang aku dapat dari radio aku pun duduk sebagai audioman. Acara berita live malam ini sukses tampa kesalahan. Dari sini titik kepercayaan meraka terhadap aku mulai tumbuh. Akhirnya dalam jangka waktu 2 minggu aku sudah memegang Sony PD. Dan puncaknya, aku dipercaya untuk memegang kamera dalam satu film untuk festival film tiap tahun antar mahasiswa tingkat 3. Walaupun film kami menempati urutan ke 3, aku cukup gembira karena ini film karya tanganku dan teman-teman. Film kami hanya terpaut 1 point dengan juara 2. Pada akhir bulan aku diajak dalam pembuatan film dokumenter serius. Ini merupakan film documenter pertamaku untuk Indonesia. Film itu berjudul "Gerimis kenangan dari sahabat yang terlupaka" . Tim kami terdiri dari Mba Henny(dia yang memasukan saya dan mempercayai saya sepenuhnya. Saya sangat berterimakasi atas itu), Romo Muji, Taufik Razen, Mas Benny, Mas Senno, dan Aku sendiri. Namun aku tidak menyukai editan film tersebut dan alur ceritanya. Tidak focus dan banyak gambar-gambarku yang tidak dimasukan. Arg,,,, kesal hati ini kalau mengingat hal itu. Tapi ini pengalaman pertamaku dalam film documenter dan ini membuatku terus maju di dunia jurnalistik. Pengalaman terakhir yang aku dapatkan adalah magang di stasiun TV "TransTV". Ouh… Trimakasih teman-teman Trans TV yang telah memberikan ilmunya tampa pamrih dan bimbingannya. Dan kepada seorang produser yang telah memberikan aku suatu dorongan untuk menulis. Mungkin kalo beliau membaca ini dia akan tersenyum. Trimakasih..
Kata seorang dosen saya, jurnalistik merupakan kekuatan ke 4 dalam suatu Negara, karena jurnalistik bisa mempengaruhi masa dan mengendalikan masa tampa disadari. Aku tidak bisa memastikan itu. Namun aku percaya akan hal itu. Dari takdir, perjalanan hidup dikampus, dan perkataan dosenku, maka terjawab pula pertanyaan "kenapa aku duduk dijalur jurnalistik". Semoga setamatnya aku dari universitas, aku bisa berdiri sejajar dengan para journalis-jurnalis yang telah sukses dan mengukir sejarah. Amin…
1 comment:
hello...namaqu yarra...aq sekarang lagi kuliah di jurusan IT semester 5...tapi sbenernya aq ngerasa salah jurusan... :( aq tertarik banget sama dunia jurnalistik dan sebenernya pengen banget kuliah di jurusan jurnalis. Setelah ngebaca blog ini jadi smakin tertarik. mau tanya, sulit ga ya untuk ngedapetin beasiswa di rusia dengan jurusan jurnalistik??makasih... :)
Post a Comment