Malam minggu...
Masih malam minggu biasanya seperti malam-malam sebelumnya.. ramai di sudut-sudut kota dimana kaula muda dan insan manusia menjalankan aktivitas "gaul"nya. Aku tetap mojok dibawah atap berwarna putih ini. Ingin beranjak berkumpul dengan kawan, mencari kegiatan membunuh waktu yg terus berdetak. Bercengkrama..
Namun, entah kenapa gw merasa sepi sendiri tak bernyawa.. ogah beranjak.. tak tau kemana kawan.. sibuk dengan deru jantung masing-masing. Hela nafas angin malam, sejuk menyapu wajah yang tak mau terlelap. Angin malam seusai hujan turun membawa suasana khidmat tuk berpikir..
Gw masih mempunyai cita-cita, namun semakin gw menyelami realitas hidup, impian itu semakin pudar. Idealisme semakin terkikis oleh realitas hidup. Idealisme bisa terjaga bila kita masih murni independent, baik secara finansial maupun sosial. Aku?! masih sangat tergantung akan keduanya. Gimana ku kan berkarya bila tanpa didukung oleh financial yang independent?! Mustahil kawan.... Aku berkarya atas perintah oleh company yang memberikan ku nafkah. Aku berkarya atas perintah untuk menghibur khalayak ramai yang akan memberikan profit untuk company itu. Aku merasa mengkerdil, cita-cita yang ku gantungkan setinggi kusen pintu itu semakin sulit digapai.
Akh... pemikiran yang sudah berat untuk malam yang cukup tenang ini. Ku nyalakan sebatang rokok yg telah menemani gw sepanjang hidup ku setibanya aku di Jakarta. Nafsu akan asap yg keluar dari rempah2an yg dilinting menyerupai tabung ini sudah sangat akut. Yah.. asap itu yang membantu ku tetap terus berpikir akan kekreatifan alam imajinasi.
Aku merindukan suatu nama.. Nama yang tidak akan aku sebutkan lagi..
Saturday, November 29, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment